Skip to main content

You Are More Than Anything ( Part 2)





 

   Setiap kali aku melihat orang-orang disekitarku, aku merasa mereka sudah berjalan jauh, sedangkan aku masih berdiri ditempat yang sama. Aku merasa aku masih disini, merenungi semua hal yang masih aku lakukan. Berpikir apakah semua hal yang aku lakukan, cari, dan putuskan akan mendatangkan hal yang baik untukku saat ini maupun dimasa yang akan datang.

Terkadang diri ini sangat lemah, menilai nilai diri sendiri lewat pencapaiaan, prestasi, harta, nama, dan lain sebagainya. Apakah pantas untuk seorang manusia menggantungkan harga dirinya lewat status, pencapaian, bahkan harta yang dimilikinya?

Aku rasa jawabannya sangat tidak pantas jika kita sebagai insan manusia menggantungkan diri pada hal-hal tersebut. Tapi mengapa aku masih memikirkan hal tersebut.

      Pada hal nilai atau keberadaan manusia tidak dinilai dari hal-hal tersebut. Kita lebih dari hal-hal duniawi yang ingin kita capai. Kadang kita lupa bahwa harga diri kita sebagai manusia tidak dinilai dari status, gelar, kekayaan dan lain sebagainya. Kita lebih dari itu.

Bagaimana jika hal-hal duniawi tersebut hilang dalam sekejab, apakah manusia masih bisa bertahan dan merasa bahwa dirinya berharga?

        Banyak sekarang yang kita ketahui, kekayaan membuat manusia serakah dan sombong. Mengangap manusia lain rendah hanya karena ia memiliki harta yang tak dimiliki oleh manusia lain. Merasa diri hebat karena dibelakangnya ada nama orang tua yang akan selalu melindungi.

Pertanyaannya ialah, bagaimana jika orang tua yang selalu melindungi kita saat kita melakukan tindakan semena-mena, pergi meninggalkan kita?  Apakah setelah semua hartanya pergi, manusia bertanya masih layakkah aku disebut sebagai manusia?

Tuhan menciptakan manusia seturut gambaran dan rupa-Nya dan mungkin dalam perjalanan kehidupan kita melupakan hal tersebut. Di zaman yang semakin canggih, orang-orang mulai gencar menujukan eksistensinya lewat harta ataupun status yang ia miliki.

 Dalam hal ini aku belajar bahwa jika manusia menggantungkan atau bahkan menyembah hal tersebut, pantaskah manusia disebut sebagai ciptaan Tuhan?

 

Aku belajar untuk merubah mindsetku tentang ini, kejarlah hal duniawi secukupnya, selebihnya carilah Tuhan Allahmu.

 

Ella Wahidin

 

 

Comments

Popular posts from this blog

2022 (part 2)

  Setelah Bapa pergi untuk selama-lamanya,aku menyadari bahwa tak ada gunanya diriku mengejar  banyak hal jika aku tak bisa membagikan waktu untuk keluarga atau orang-orang yang aku sayangi.Membuat mereka bangga atas pencapaianmu memang hal yang sangat luar bisa tapi membuat merek tersenyum setiap hari itu yang ingin aku impikan.2022 mengajarkanku bagaimana bersikap dewasa dengan keadaan walaupun aku masih ingin menikmati masa mudaku.Aku ingin tak terlalu memikirkan masa depanku,aku ingin aku bisa tertawa lepas,dan aku ingin aku tak memikirkan makan apa aku besok.Tapi semuanya tak bisa aku dapatkan.    2022 aku sangat berambisi untuk masuk PTN.Bapa politus waktu itu sangat senang ketika aku memutuskan aku ingin mengambil jurusan bahasa inggris.aku bisa melihat aura senang diwajahnya,hingga akhirnya senangnya memuncah saat aku lulus seleksi dan berhasil masuk PTN impianku jalur prestasi.Bapa politus sangat senang waktu itu,ia menceritakan kebahagiaan ini kepada semua ...

short thought

 Setiap kali aku membuka media sosial aku merasa apakah aku yang berjalan begitu lamban atau dunia yang berjalan yang begitu cepat. perasaan manusia tidak ada yang bisa diprediksi,hari ini ia bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja dan besok ia akan  merasa takut akan masa depannya. semuanya tergantung apa yang ia lihat dan ia pikirkan.Tapi tak ada manusia yang ingin hidupnya dipenuhi kebimbangan dan ketakutan,begitupun aku.   Mungkin sebagian orang akan merasa perasaan takut dan cemas dimasa depan itu adalah perasaan yang buruk,dimana kamu tidak menikmati moment yang kamu alami sekarang.tapi menurutku, tak ada yang salah tentang perasaan seseorang karena semuanya murni dari hati seseorang. Seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa aku harus bisa berjuang sendiri,tak ada yang bisa aku andalkan didunia ini selain diriku sendiri,karena pada dasarnya orang yang akan benar-benar sayang kepada kamu hanyalah diri kamu sendiri,orang yang tulus mencintai kamu hanya diri kamu s...

2022 [ part 1 ]

sumber : pinterest  Hari ini adalah hari pertama aku menulis kembali di blog ini,pertama kali  juga aku menulis  di bulan desember.Rasanya baru kemarin aku belajar bagaimana cara menulis blog.Belajar mengungkapkan apa yang aku rasakan lewat tulisan dan aku percaya bahwa apa yang aku buat dulu memuaskan hasil untuk diriku sendiri.Karena bagiku merayakan hal kecil juga sangat penting dalam sebuah kehidupan,tidak semuanya tentang hal yang besar,karena aku yakin jika semuanya tentang hal-hal yang besar dan megah kita sendiri juga akan merasa sesak dan tak puas dengan itu.     Banyak hal yang aku pelajari di tahun 2022 ini dan bahkan untuk menulisnya kembali butuh 365 hari lagi untuk kembali melihat sisa-sisa kenangan yang ada. Belajar mensyukuri hal kecil dalam kehidupanku, belajar menikmati kehidupanku,belajar menjadi manusia seutuhnya dan yang paling melekat di tahun 2022 ini dan mungkin tak akan pernah aku lupakan adalah belajar mengikhlaskan kepergian Bapa....